Rabu, 10 Juni 2015
Festival Panen Raya Nusantara di selenggarakan oleh NTFP-EP Indonesia,WWF Indonesia, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI), KEHATI, GEF SGP,Kemitraan, RECOFTC, Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN), Aliansi Organis Indonesia (AOI), Samdhana Institute,Perkumpulan TELAPAK, Jaringan Madu Hutan Nusantara (JMHI) , Jasa Menenun Mandiri, Sintang ,Yayasan Riak Bumi, Pontianak, Yayasan Dian Tama, Pontianak, Kemitraan, Perkumpulan Indonesia Berseru (IB), Rumah Organik, Forum Komunikasi Kehutanan Masyarakat (FKKM),WARSI, Jambi , Yayasan Anak Dusun Papua (YADUPA) Jayapura, Yayasan Mitra Insani (YMI) Riau, Yayasan Konservasi Way Seputih (YKWS) Lampung. Dilaksanakan di Lapangan Banteng Jakarta Pusat tanggal 6 - 7 Juni 2015.Festival “Panen Raya Nusantara: Menuju Ekonomi Komunitas Adil Lestari” digagas berdasarkan
keprihatinan akan perhatian terhadap produk-produk komunitas yang masih termarjinalkan.
Padahal potensi dan ceruk pasar terhadap produk-produk komunitas sangat besar baik ditingkat
daerah, nasional maupun manca negara. Festival ini tidak hanya bersifat perayaan semata, tetapimencoba menghadirkan terobosan mekanisme injeksi bisnis produk komunitas dengan penggiat
industri kreatif untuk meningkatkan daya jual dan pemahaman akan produk komunitas kepada
public.
Selain pameran, berbagai acara juga telah di persiapkan diantaranya adalah Talkshow dengan
tema “Produk Komunitas dan Hak Kekayaan Intelektual” – Talkshow ini akan membahas
terkait Hak Kekayaan Intelektual komunitas, dikaitkan dengan rejim paten yang berlaku saat ini.
Tema “Produk Komunitas dan Hak Kekayaan Intelektual” Talkshow ini akan membahas
terkait Hak Kekayaan Intelektual komunitas, dikaitkan dengan rejim paten yang berlaku saat ini.
Hari/tgl : Sabtu /6 Juni 2015, 10.30 -12.00 WIB. Tempat Lapangan Banteng, Jalan Lapangan Banteng Barat Jakarta Pusat.
Narasumber terdiri Sharing sukses Geografik Indication dari 1. Julmansyah (Jaringan Madu Hutan Sumbawa), dan FORMADAT Krayan Kalimantan Utara 2. Prof. Dr. Agus Sardjono, SH, MH (Dosen Hukum Universitas Indonesia). “Analisis Peluang dan Ancaman Kebijakan Nasional dan Internasional atas GRTKF Indonesia”, 2. Abdon Nababan dari Sekjen AMAN dengan Moderator Rasdi Wangsa dari Aliansi Organik Indonesia (AOI).
Keberhasilan perlindungan komoditi madu Sumbawa menurut Julmansyah akibat dari adanya upaya pencatatan (record) atas semua tahaan dan segala bentuk pengetahuan masyarakat (community knowladge) terkait dengan madu Sumbawa. Hal tersebut didukung oleh Prof. Dr. Agus Sardjono, menurutnya kendala komunitas di Indonesia adalah sebangain besar karena kuatnya budaya tutur atau verbal sehingga diperlukan upaya penulisan bagi pengetahuan masyarakat.
Perlindungan komoditi madu Sumbawa juga merupakan produk kehutanan pertama yang telah mendapat perlindungan dari negara, sementara menurut Julmansyah sebagian besar komoditi yang telah mendapat perlindungan Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI) Indikasi Geografis adalah kopi dari berbagai daerah.
Kamis, 28 Mei 2015
Sesungguhnya telah banyak tamu yang berkunjung ke desa ini. Akan tetapi kunjungan rombongan BPPT Jakarta tanggal 7 Mei 2015 ini ingin mengetahui tentang madu Sumbawa. Hal tersebut setelah mendengar presentasi Bapak Julmansyah Kepala KPHP Batulanteh dan juga Fasilitator JMHS, membuat para ilmuan Indonesia tertarik untuk mengetahui lebih jauh.
Salah satu anggota tim BPPT yakni Dr. Gigih Atmaji mengakui sangat tertarik untuk mengembangkan berbagai produk madu Sumbawa. Gigih Atmaji kemudian menyampaikan bahwa input teknologi terkait dengan misalnya pengurangan kadar air.
Menurut Julmansyah, Desa Batudulang akan dijadikan sebagai Pusat Pembelajaran Produk Hasil Hutan Madu Sumbawa. Dimana di desa ini ada proses panen hingga pasca panen madu Sumbawa. Termasuk pemasarannya dengan adanya outlet milik kelompok yang telah ada disana, ujarnya.
Sebuah inovasi dalam model pemberdayaan masyarakat, dimana ada proses pengembangan masyarakat yang berbasis pengetahuan masyarakat setempat. KPHP Batulanteh akan ikut mengawal model ini kedepan.
Jumat, 07 Februari 2014
Saat ini banyak produsen, pengusaha madu di banyak daerah membawa nama madu Sumbawa sebagai bagian dari produk ataupun promosinya. Meskipun kita masih menyangsikan kebenaran asal usul madu tersebut. Sehingga tak jarang jika madunya kualitasnya tidak baik maka akan merugikan nama baik madu Sumbawa. Lantas bagaimana kita meyakinkan konsumen atau memastikan bahwa madu tersebut berasal dari Sumbawa?. Pertanyaan lainnya adalah bagaimana dan siapa yang bisa mengatasnamakan madu Sumbawa?. Saat ini telah tersedia perangkat hukum melalui Undang-undang maupun peraturan pemerintah. yakni UU No 15 2011 tahun Tentang Merek serta PP No 51 tahun 2007 Tentang Indikasi Geografis. Maka sejak 15 Desember 2011 JMHS telah terdaftar sebagai Pemegang Hak Atas Kekaayaan Intelektual (HAKI) Indikasi Geografis (IG) Madu Sumbawa. Hal tersebut yang dibuktikan dengan penyerahan sertifikat HAKI Indikasi Geografis (IG) oleh Dirjen Hak Atas Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum dan HAM kepada Gubernur NTB yang kemudian diserahkan kepada Bupati Sumbawa pada HUT NTB di Sumbawa Besar, 17 Desember 2011 lalu.Menurut Julmansyah Fasilitator Jaringan Madu Hutan Sumbawa (JMHS), inisiatif untuk melakukan perlindungan (proteksi) hak intelektual produk ini sangat penting mengingat produk madu Sumbawa ini berpotensi menjadi komoditi perdagangan lintas negara lintas konsumen. Sehingga kita harus memiliki kepastian siapa yang berhak untuk melakukan pengawasan sekaligus ini menjadi bagian dari self regulation madu Sumbawa. Karena madu Sumbawa sudah menjadi merek dagang yang semua orang bisa gunakan. Jika tidak ada yang mengawal produk ini bukan tidak mungkin produk ini akan didaftarkan sebagi HAKI dari negara lain sepertinya Tempe, Kopi dan produk pangan lainnya.
Menurut Undang-undang tentang Merek tersebut, Indikasi geografi dilindungi sebagai suatu tanda yang menunjukkan daerah asal suatu barang, yang karena faktor lingkungan geografis termasuk faktor alam, faktor manusia atau kombinasi dari kedua faktor tersebut, memberikan ciri dan kualitas tertentu pada barang yang dihasilkan. Pada pasal 57 dari Undang-undang ini disebutkan, ayat (1) Pemegang hak atas indikasi-geografis dapat mengajukan gugatan terhadap pemakai indikasi-geografis yang tanpa hak berupa permohonan ganti rugi dan penghentian penggunaan serta pemusnahan etiket indikasigeografis yang digunakan secara tanpa hak tersebut. Ayat (2) Untuk mencegah kerugian yang lebih besar pada pihak yang haknya dilanggar, hakim dapat memerintahkan pelanggaran untuk menghentikan kegiatan pembuatan, perbanyak serta memerintahkan pemusnahkan etiket indikasi-geografis yang digunakan secara tanpa hak tersebut.
Kini dilabel-label madu Sumbawa produk JMHS telah dicantumkan logo HAKI Indikasi Geografis (IG) sebagai bentuk kebenaran bahwa madu tersebut benar-benar dari Sumbawa. Kementerian Hukum dan HAM setiap tahun melakukan inspeksi pada pemegang HAKI IG termasuk pada JMHS. Menurut Julmansyah, ini sejarah buat masyarakat Sumbawa bahwa ada komoditi Sumbawa yang pemegang HAKI nya adalah masyarakat Sumbawa. Kedepan harus segera menyusul Kopi Arabika Batulanteh, Terasi Empang, Permen susu penyaring dll.(jmhs)
Selasa, 14 Agustus 2012
POTENSI
LEBAH MADU HUTAN Apis dorsata DI KAWASAN
HUTAN TAMAN NASIONAL TESSO NILO, RIAU DAN KABUPATEN
SUMBAWA, NUSA TENGGARA BARAT Sebuah
Laporan Survai
Oleh:
Soesilawati
Hadisoesilo
Sih
Kahono
Suwandi
Pontianak, Juli 2011
Kerjasama
Jaringan Madu Hutan Indonesia (JMHI) dengan Cordaid
Pemanfaatan madu
telah terdokumentasi sejak jaman Mesir kuno untuk kebutuhan sehari-hari dengan
harga yang tinggi pada masa itu. Saat ini, pemanfaatan madu semakin luas dalam skala
industri besar dan farmasi, maupun skala industri kecil dan rumah tangga. Masyarakat
yang tinggal di sekitar hutan sudah memanfaatkan madu lebah hutan secara turun
temurun.
Madu lebah sudah lama dikenal oleh
masyarakat Indonesia walaupun tidak dianggap sebagai makanan tetapi hanya
sebagai obat. Madu dihasilkan oleh beberapa jenis lebah baik yang mempunyai
sengat (Apis spp.) maupun yang tidak
mempunyai sengat (Trigona spp.).
Ada sembilan jenis lebah penghasil
madu yang bersengat di dunia, enam di antaranya yakni Apis andreniformis, A. cerana, A. nigrocincta, A. koschevnikovi, A.
nuluensis, dan A. dorsata merupakan lebah asli Indonesia.
Salah satu jenis lebah madu yang dikenal produktif dalam menghasilkan madu
adalah A. dorsata atau yang dikenal
dengan lebah hutan. Lebah dorsata tersebar luas hampir di seluruh kepulauan di
Indonesia, kecuali Papua dan Kepulauan Maluku yang tidak termasuk gugusan
kepulauan Sunda Kecil.
Walaupun sampai saat ini A. dorsata masih belum bisa dibudidayakan,
tetapi lebah ini merupakan penghasil madu terbesar di Indonesia. Sekitar 70%
madu yang ada di Indonesia berasal dari A.
dorsata. Beberapa daerah penghasil madu dorsata yang sangat terkenal diantaranya
pulau Sumbawa, Provinsi Riau, Provinsi Kalimantan Barat, Provinsi Sulawesi
Selatan dan Tenggara.
Kawasan hutan Taman Nasional Tesso
Nilo (TNTN) di Provinsi Riau, merupakan salah satu penghasil madu yang
potensinya cukup besar. Tiga Kabupaten yang berdekatan dengan TNTN dikenal
sebagai penghasil madu adalah Kabupaten Kampar, Kuantan Singingi, dan
Pelalawan. Di tiga kabupaten tersebut, tumbuhan pakan lebah masih sangat
mendukung kehidupan A. dorsata,
kondisi hutan sebagai sumber pakan dan tempat bersarang masih cukup bagus, disamping
luasnya tanaman akasia (Acacia mangium)
dan karet (Hevea brasiliensis)
(Lampiran 1).
Selain TNTN, pulau
Sumbawa juga telah dikenal sejak lama sebagai produsen madu hutan yang
merupakan salah satu produk unggulan dari komoditi hasil hutan bukan kayu (Non Timber Forest Product = NTFP). Madu
hutan mempunyai prospek dan daya saing untuk dimanfaatkan dan dikembangkan,
yang telah membuka banyak lapangan kerja yang dapat meningkatkan ekonomi
masyarakat di sekitar hutan dan masyarakat Nusa Tenggara Barat (NTB) pada
umumnya.
Kabupaten Sumbawa,
dikenal sebagai salah satu sentra produsen madu hutan di Pulau Sumbawa selain Kabupaten
Dompu, Bima, dan Sumbawa Barat. Potensi sumber daya alam hutan pada umumnya
sangat besar sebagai sumber pakan bagi lebah madu hutan. Selain itu, potensi
masyarakat yang telah memanfaatkan madu hutan secara turun-temurun, merupakan
modal dasar dalam menggali potensi Kabupaten Sumbawa sebagai produsen madu
hutan.
Walaupun potensi lebah
hutan sudah dikenal sebagai penghasil madu, namun sampai saat ini jumlah
produksi madu hutan belum terdokumentasi dengan baik. Laporan ini merupakan
hasil survai yang bertujuan untuk mengetahui potensi kawasan hutan TNTN dan Kabupaten Sumbawa
sebagai produsen madu hutan bekerjasama dengan Jaringan Madu Hutan Indonesia (JMHI).
Senin, 11 Juni 2012
Tanggal 7 Juni 2012 bertempat di Jalan Ki Hajar Dewantara Kelurahan Pekat Kec. Sumbawa, Rumah Madu Sumbawa di resmikan oleh Bupati Sumbawa Drs. H. Jamaluddin Malik. Menurut Bupati Sumbawa, Madu Sumbawa merupakan icon Sumbawa. Sekalipun yang hadir pada acara yang sederhana ini sedikit saya tetap datang untuk meresmikan Rumah Madu Sumbawa ini. Mengingat selama Kab. Sumbawa ini ada kita tidak memiliki suata rujukan dimana Madu Sumbawa yang dapat dipercaya kualitasnya. Karena nilai strategis tersebut makanya saya hadir pada acara Peresmian Rumah Madu Sumbawa, jelas Bupati Sumbawa.
Acara ini merupakan hasil kerjasama Jaringan Madu Sumbawa (JMHS) dengan Bank BNI yang didukung oleh Pemda Sumbawa dan Kementerian Kehutanan. Pada acara tersebut Bupati Sumbawa akan mendukung JMHS agar usaha ini terus berjalan dengan membantu bantuan sarana operaional dan modal Rp. 25 juta rupiah.
Menurut Julmansyah selaku Fasilitator JMHS, Rumah Madu ini ndihajatkan sebagai sarana pemasaran produk madu masyarakat Sumbawa yang telah didampingi oleh JMHS dengan sejumlah teknik panen yang menghasilkan madu dengan kualitas baik. Disamping itu JMHS menerapkan sistem tracebility yang memungkinkan madu diketahui asal usulnya. Diakui oleh Julmansyah, bekerja dengan petani Madu sungguh tidak mudah tetapi JMHS telah menghajatkan bahwa bekerja untuk madu Sumbawa berarti membantu ribuan petani madu dan mempertahankan nama Madu Sumbawa. Apalagi JMHS merupakan pemehang Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI) Madu Sumbawa, yang diakui oleh perundang-undangan.
Beberapa produk Madu Sumbawa yang dipasarkan di Rumah Madu yakni botol jerigen ukuran 1.000 ml (1 liter) Rp. 160.000,- ukuran jerigen kecil 500 ml Rp. 80.000,- dan ukuran botol selai 230 ml Rp. 45.000,-. serta ukuran 150 ml Rp. 25.000,- Menurut Julmansyah kedepan Rumah Madu Sumbawa akan memasarkan madu dengan kadar air yang Standar Nasional Indonesia (SNI) minimal 22%. Selama ini madu yang beredar dipasaran lokal Sumbawa merupakan madu dengan kadar air tinggi (alami tanpa) berkisar antara 24% - 28%. Semakin tinggi kadar air akan mempengaruhi kualitas madu tersebut.
Pemesan di luar kota Sumbawa, seperti Mataram dan Surabaya akan tetap dilayani dengan ongkos kirim ditanggung oleh konsumen. Konsumen dapat memesan langsung melalui telepon yang berhubungan dengan Menejer Rumah Madu Sumbawa, Endang Komaladewi (081803692260 atau 082145013111) dengan konsumen mentransfer uangnya disertai dengan bukti pengirimannya dapat melalui email: endangkomala@yahoo.com***
Acara ini merupakan hasil kerjasama Jaringan Madu Sumbawa (JMHS) dengan Bank BNI yang didukung oleh Pemda Sumbawa dan Kementerian Kehutanan. Pada acara tersebut Bupati Sumbawa akan mendukung JMHS agar usaha ini terus berjalan dengan membantu bantuan sarana operaional dan modal Rp. 25 juta rupiah.
Menurut Julmansyah selaku Fasilitator JMHS, Rumah Madu ini ndihajatkan sebagai sarana pemasaran produk madu masyarakat Sumbawa yang telah didampingi oleh JMHS dengan sejumlah teknik panen yang menghasilkan madu dengan kualitas baik. Disamping itu JMHS menerapkan sistem tracebility yang memungkinkan madu diketahui asal usulnya. Diakui oleh Julmansyah, bekerja dengan petani Madu sungguh tidak mudah tetapi JMHS telah menghajatkan bahwa bekerja untuk madu Sumbawa berarti membantu ribuan petani madu dan mempertahankan nama Madu Sumbawa. Apalagi JMHS merupakan pemehang Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI) Madu Sumbawa, yang diakui oleh perundang-undangan.
Beberapa produk Madu Sumbawa yang dipasarkan di Rumah Madu yakni botol jerigen ukuran 1.000 ml (1 liter) Rp. 160.000,- ukuran jerigen kecil 500 ml Rp. 80.000,- dan ukuran botol selai 230 ml Rp. 45.000,-. serta ukuran 150 ml Rp. 25.000,- Menurut Julmansyah kedepan Rumah Madu Sumbawa akan memasarkan madu dengan kadar air yang Standar Nasional Indonesia (SNI) minimal 22%. Selama ini madu yang beredar dipasaran lokal Sumbawa merupakan madu dengan kadar air tinggi (alami tanpa) berkisar antara 24% - 28%. Semakin tinggi kadar air akan mempengaruhi kualitas madu tersebut.
Pemesan di luar kota Sumbawa, seperti Mataram dan Surabaya akan tetap dilayani dengan ongkos kirim ditanggung oleh konsumen. Konsumen dapat memesan langsung melalui telepon yang berhubungan dengan Menejer Rumah Madu Sumbawa, Endang Komaladewi (081803692260 atau 082145013111) dengan konsumen mentransfer uangnya disertai dengan bukti pengirimannya dapat melalui email: endangkomala@yahoo.com***
Kamis, 07 Juni 2012
Selama 5 tahun keberadaan jaringan madu hutan Sumbawa (JMHS) sejak 2007
hingga sekarang, belum-lah kami mampu berjalan sendiri. Sekalipun selama 5
tahun kami juga nyaris berjalan sendiri. Memperkuat nama besar madu Sumbawa.
Sekalipun demikian, seluruh produksi madu petani Sumbawa belumlah
sesuai dengan standar nasional Indonesia
(SNI) dengan kadar air minimal 20%. Melalui Jaringan Madu Hutan Sumbawa, kami telah mulai merintis madu dengan
standar SNI tersebut.
Untuk itulah dengan segala sumberdaya yang kami miliki dan
alhamdulillah didukung oleh bank bni melalu dana CSR (tanggung jawab sosial
perusahaan) niat kami akan memproduksi madu dengan standar nasional
indonesia akan segera tercapai.
Keberadaan kerjasama dengan bank bni ini merupakan upaya kami untuk
memperbaiki kualitas madu Sumbawa sesuai dengan standar nasional Indonesia (SNI). Melalui bantuan bank bni senilai rp. 132.450.000 (seratus tiga puluh dua juta
rupiah empat ratus lima puluh ribu rupiah), kami melengkapi peralatan
pasca panen madu, dengan mengadakan alat pengurang kadar air madu, pembelian
alat ukur kadar air madu, perbaikan label dll. Dengan keberadaan alat ini
produksi madu anggota JMHS diharapkan akan sesuai dengan standar nasional indonesia.
Akan tetapi alat tersebut belum dapat kami gunakan, mengingat kami
membutuh bangunan yang representatif di rumah madu ini. Untuk itu melalui bapak bupati Sumbawa, kiranya dapat
membantu kami dalam pengadaan bangunan pengurang kadar air madu yang sekaligus
melengkapi sarana dan prasarana di rumah
madu Sumbawa ini. Rumah madu Sumbawa ini dibangun ditanah milik dinas
kehutanan dan biaya rehab bangunan atas bantuan dari kementerian kehutanan.
Sebagai akhir laporan ini kami sampaikan terima kasih kepada bank bni
jakarta dan bank bni cabang Sumbawa yang telah dengan sabar dan mau bekerjasama
dengan jaringan madu hutan Sumbawa. Kepada kepala dinas kehutanan dan
perkebunan Sumbawa atas segala dukunganya morilnya kami sampaikan terima kasih,
kedepannya kami masih membutuhkan dukungan lebih nyata seperti halnya bank bni
ini.
Kepada bapak bupati Sumbawa dan bapak bupati Sumbawa yang selama ini
selalu mendukungan JMHS dan membeli madu di anggota JMHS kami menyampaikan
terima kasih. Kepada bapak bupati Sumbawa, mohon kiranya untuk memberi sambutan
dan arahan sekaligus meresmikan rumah madu ini.
Demikian yang dapat
saya sampaikan, mohon maaf bila ada salah khilaf.
Wabillahi taufik
walhidaya wassalam mualaikum warrahmatullahi wbarakatuh
Jaringan madu hutan Sumbawa
(JMHS)
Ketua
M. Rakib
Senin, 17 Oktober 2011
Asia Regional Workshop on Nutrition and Health Benefits
on The Apis dorsata and Triggona Spp.di kebun Raya Bogor
Temu Petani Madu Asia, tampak dari Sulawesi, Sumbawa (2 orang M. Rakin - Ketua JMHS dan Junaidi Zain), dari Vietnam, Philipina, India dan Nepal)
Kegiatan Madhu Duniya merupakan pertemuan para petani madu, praktisi dan ilmuan madu di Asia di Laksanakan di Kebun Raya Bogor 19-20 September 2011. kegiatan Madhu Duniya yang kedua diadakan di Indonesia setelah yang pertama dilaksanakan di India tahun 2007. Kegiatan Madhu Duniya dibagi dalam dua kegiatan yakni Asia Regional Workshop on Nutrition and Health Benefits on The Apis dorsata and Triggona Spp. Kegiatan Workshop diikuti oleh para ilmuan madu dari Malaysia, Vietnam, India, Kamboja, Philipina, Nepal dan Indonesia. Indonesia sendiri perwakilan dari berbagai daerah anggota Jaringan Madu Hutan Indonesia (JMHI), termasuk dari Jaringan Madu Hutan Sumbawa (JMHS) yakni Julmansyah.
Kegiatan Kedua yakni Pertemua para petani madu Asia yang dikemas dalm Pertemuan Tahunan (annual meeting) JMHI di Taman Nasional Ujung Kulon.
Kegiatan Asia Regional Workshop on Nutrition and Health Benefits on The Apis dorsata and Triggona Spp dengan pemaparan para ahli antara lain:
- Nutritional, health value of bee pollen & best ways to handle and preserve oleh Dr.Phung Huu Chinh & Le Quang Trung Bee Research & Development Centre (BRDC) dari Vietnam;
- Bees Our Region, oleh Leo dari India
- The Cambodian Federation For Bee Conservation and Community-Based Wild Honey Enterprises
- Bioactivities of bee products in Thailand Oleh Chanpen Chancha, Department of Biology, Faculty of Science, Chulalongkorn University, Bangkok, Thailand
- Nutritional values of honey-Wild honey
- The NATRIPAL HONEY Story From the last forest frontier --- Palawan, Philippines
- THE POTENTIAL HEALTH BENEFITS OF TUALANG HONEY BASED ON RECENT RESEARCH FINDINGS Oleh Siti Amrah Sulaiman [MD; MMedSci;PhD] Coordinator for T&CM Research Group School of Medical Sciences Health Campus, Universiti Sains Malaysia 16150 Kubang Kerian, Kelantan, MALAYSIA.
- IMPROVING THE WELFARE OF THE LOCAL COMMUNITY AND ENVIRONMENT THROUGH FOREST HONEY BEE IN INDONESIA Oleh Hermanto JMHI
- From Forest Gate to Sophisticated Market, Oleh Johnny Utama Dian Niaga Jakarta
- From Money Laundering to Honey Laundering: The Horror Story!, The Impact on Health and Nutrition.
Sungguh banyak pengalaman bagaimana praktek pengelolaan madu hutan (apis dorsata) di banyak negara Asia. Di Vietnam dan Camboja, kelompok masyarakatnya mereka telah bergerak pada produk turunan dari madu hutan. Sementara kita di Sumbawa masih berputar hanya di produk madu. ada banyak turunan madu yang bisa bermanfaat untuk kesehatan, antara lain Beebread atau beepolen.
Minggu, 14 Agustus 2011
Lesson Learned Jaringan Madu Hutan Indonesia dipresentasikan di 2nd Regional Forum
di Bangkok Thailand, yang di moderatori oleh Maria Cristinna Guetterro dari NTFP EP Philipina
Bersama mitra NTFP EP di stand Pemeran hasil hutan bukan kayu jaringan NTFP EP Asia Tenggara
Foto bersama participans Indonesia di 2nd Regional Forum Bangkok Thailand, saat penutupan acara
tampak di tengah menggunakan jaket Dr. Ir. Haryadi Himawan dari Sekretariat ASEAN Social Forestry Network (ASFN) yang juga Direktur Bina Perhutanan Sosial Kementerian Kehutanan RI.
Dalam rangka International Year of the Forest 2011, dengan tema sentral People and Forest maka dilaksanakan 2nd Regional Forum untuk Asia Pasifik di Bangkok Thailand dari 8 – 9 Agustus 2011. Tema pada 2nd Regional Forum ini adalah Community Forestry: Key to Solving Current and Emerging Challenges. Pertemuan ini dihadiri oleh 20 negara dengan 180 peserta terdiri dari lembaga donor, perwakilan pemerintah, LSM international, LSM lokal, para pelaku kehutanan masyarakat yang tersebar di semua Negara peserta. Pertemuan ini membahas kondisi terkini, perkembangan serta pelajaran (cerita sukses) selama parapihak bekerja melibatkan masyarakat lokal dalam pengelolaan hutan. Fokus pembahasannya bagaimana kondisi sekarang dan tantangan yang muncul dalam pengembangan kehutanan masyarakat (community forestry).
Pertemuan ini sangat strategis bagi pelaku dan promotor kehutanan masyarakat di Asia Pasifik, sehingga panitia mengundang para pelaku dari berbagai Negara, kelompok maupun LSM dan perguruan tinggi untuk mempresentasikan pengalamannya bekerja melibatkan masyarakat dalam pemanfaatan dan pengelolaan sumberdaya hutan. Setengah hari pertama diisi dengan pandangan para ahli tentang kehutanan masyarakat. Kemudian setengah harinya kembali diisi dengan 24 contoh inovasi serta inisiatif berbasis masyarakat dari semua negara. Pembahasan inisiatif ini dilaksanakan secara paralel, dan Jaringan Madu Hutan Sumbawa (JMHS) yang mewakili Jaringan Madu Hutan Indonesia (JMHI) wakili oleh Julmansyah, berkesempatan menyampaikan pengalaman serta beberapa capaian hasil bekerja bersama masyarakat madu di Indonesia secara umum. Paparan pengalaman ini masuk dalam sub tema income generation dan market acces (peningkatan pendapatan dan akses pasar) terutama untuk hasil hutan bukan kayu. Pada sesi ini dipresentaskan pengalaman dari Indonesia (pengelolaan madu hutan), Philipina (pemasaran NTFP), China Agricultural University (tentang Bambu), Asia Network for Suistainable Agriculture & Bioresources–Nepal (pemasaran hasil hutan bukan kayu), The Nature Conservation Papua New Guinea (Jasa Lingkungan).
Hari kedua forum ini akan merumuskan Visi Kehutanan Masyarakat di 2020 serta merumuskan rencana aksi bagi seluruh negara peserta.Acara ini diorganiser oleh badan pangan dunia FAO, Japan International Cooperation Agency (JICA), ASEAN Social Forestry Network (ASFN), Departemen Kehutanan Kerajaan Thailand dan RECOFT.
Pertemuan seperti sekaligus merupakan sarana untuk saling tukar menukar informasi, pengetahuan dan keterampilan dalam rangka mempromosikan kehutanan masyarakat (community forestry). Pada ruang berbeda di arena pertemuan terdapat pameran dan pemutaran film dari berbagai inisiatif di Asia Pasifik. Seluruh peserta yang memiliki film dokumenter tentang program/proyek di negara masing-masing turut juga diputar. Dari Sumbawa juga disampaikan film dokumenter “BOAN The Guardian Sumbawa River Basin/Watershed”. Film ini menceritakan bagaimana pohon Boan menjadi salah factor yang harus dijadikan pintu masuk dalam menjaga DAS di Sumbawa, khususnya Sub DAS Batulanteh yang hulunya di Desa Batudulang.
Rabu, 13 Juli 2011
Jaringan Madu Hutan Sumbawa (JMHS) berpartisipasi mensukseskan Gebyar Madu Nusantara di Mataram 12 Juli 2011 serta pemecahan rekor minum madu. Kegiatan tersebut menjadi rangkaian International Conference Forest Land Tenure di Lombok. Berikut Foto Kegiatan tersebut:
Ket Gambar: Tampak Stand JMHS di arena International Conference Forest Land Tenure, tampak pengurus JMHS Sdr. Junaidi Zain
Ket. Gambar: Di arena Gebyar Madu Nusantara dan Minum Madu di depan Kantor Gubernur NTB. Stand JMHS di serbu pengunjung tampak produk madu JMHS di tangan pengunjung
Ket. Gambar: Tampak Ketua JMHS Sdr M. Rakib di stand JMHS di arena conferensi bersama salah seorang peserta dari Afrika
Ket. Gambar: Ketua JMHS bersama Wakil Gubernur NTB di area Gebyar Madu Nusantara, tampak produk madu JMHS di atas meja
Ket. Gambar: Ketua JMHS bersama Menteri Kehutanan di depan stand JMHS di arena Minum Madu dan Gebyar Madu Nusantara, tampak Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan memegang Buku "Madu Hutan Menekan Deforestasi", yang diterbitkan oleh JMHS bersama EGP The Netherland
Rabu, 29 Juni 2011
Jaringan Madu Hutan Sumbawa (JMHS) menjadi salah satu partisipan pada ASEAN One Village One Product (OVOP). JMHS mewakili produk-produk kehutanan yang berbasis masyarakat dengan kualitas produk yang baik. Ini sebuah pengakuan dari kementerian terhadap kiprah Jaringan Madu Hutan Sumbawa (JMHS).
Seminar berskala ASEAN dan pameran (exhibition) yang diikuti oleh seluruh negara ASEAN dengan produk-produk yang berbasis desa (one village). Seminar dan pameran ini telah dilaksanakan 14-15 November 2009 di The Westin Resort Nusa Dua - Bali Indonesia. Khusus dari NTB, komoditi madu hutan (beeforest) dan kerajinan gerabah. Dalam kegiatan ini, seluruh pembiayaan pameran ini dari JMHS.
Pesannya, JMHS dapat menjadi prototipe organisasi rakyat yang tidak tergantung dengan pembinaan dan pembiayaan pemerintah. proses fasilitasi dan pengembangannya dapat menjadi acuan organisasi masyarakat/rakyat yang lain sehingga kedepan ada keberlanjutannntya.
Senin, 02 Mei 2011
Sejak kehadiran Jaringan Madu Hutan Sumbawa (JMHS), 2007 lalu, membuat harga madu di petani melonjak naik dari berkisar Rp. 15.000 - 17.000,- menjadi Rp. 25.000,-. Mengingat JMHS mengeluarkan harga dasar madu, sehingga petani menjadi lebih aman. Harga yag ditawarkan oleh JMHS pada kelompok dampingannya merupakan harga madu dengan teknik tiris bukan peras tangan, sehingga madu yang dihasilkan lebih jernih dan higienis. Selama ini madu Sumbawa yang dihasilkan oleh petani madu semuanya menggunakan peras tangan, sehingga ini yang mengakibatkan madu menjadi tidak bersih dan cenderung kotor.
Pada sisi lain, dari pemasaran madu JMHS, sebagian hasil penjualan dikembalikan kepada petani madu. pada tahun 2009, JMHS bersama Jaringan Madu Hutan Indonesia (JMHI) memberikan profit sharing (bagi hasil) kepada petani madu Sumbawa sekitar sembilan juta rupiah. Disamping JMHS tetap memberikan pelatihan dan bantuan alat panen amdu bagi petani anggota JMHS.
Saat ini JMHS sudah mengeluarkan berbagai kemasan madu yakni:
email: jaringanmaduhutansumbawa@gmail.com
atau sdri. Endang Komaladewi email: endangkomala@yahoo.com
Pada sisi lain, dari pemasaran madu JMHS, sebagian hasil penjualan dikembalikan kepada petani madu. pada tahun 2009, JMHS bersama Jaringan Madu Hutan Indonesia (JMHI) memberikan profit sharing (bagi hasil) kepada petani madu Sumbawa sekitar sembilan juta rupiah. Disamping JMHS tetap memberikan pelatihan dan bantuan alat panen amdu bagi petani anggota JMHS.
Saat ini JMHS sudah mengeluarkan berbagai kemasan madu yakni:
- Kemasan 300 ml dengan harga Rp. 35.000,- ukuran botol selai dari botol kaca (lihat gambar)
- Kemasal 170 ml dengan harga Rp. 25.000,- ukuran botol selai dengan bahan plastik food grade
- Kemasan 500 ml dengan harga Rp. 50.000,- ukuran jerrigen kecil
email: jaringanmaduhutansumbawa@gmail.com
atau sdri. Endang Komaladewi email: endangkomala@yahoo.com
Sabtu, 09 April 2011
Madu Sumbawa dihaslkan oleh lebah hutan Apis dorsata. Lebah ini merupakan katagori lebah raksasa yang belum dapat di domestikasi. Lebah ini berbeda dengan lebah ternak dengan jenis Apis meliffera maupun Apis cerana yang banyak diternakan di sebagian besar Pulau Jawa. Pakan (nectar) Apis dorsata tersebar di kawasan hutan alam yang jauh dari input-input atau treatment yang berpotensi merusak potensi organik.
Menurut Guidance manual for organic collection of wild plants SIPPO Wild Collection Manual yang dikeluarkan oleh IMO (Institute for Marcetology) menjelaskan bahwa terdapat tiga kategorisasi sertifikas tanaman atau tumbuhan maupun hewan liar.
Menurut Guidance manual for organic collection of wild plants SIPPO Wild Collection Manual yang dikeluarkan oleh IMO (Institute for Marcetology) menjelaskan bahwa terdapat tiga kategorisasi sertifikas tanaman atau tumbuhan maupun hewan liar.
- Tanaman dikumpulkan tumbuh secara alami di daerah, yang belum diberi perlakuan atau yang belum diberi selama 3 tahun.
- Area pengumpulan tidak dimiliki oleh perusahaan itu sendiri (tanah publik)
- Tanaman yang dikumpulkan harus tumbuh dan beregenerasi secara alami tanpa ada perlakuan sesuai dengan pertanian
- Yang disertifikasi merupakan tanaman tumbuh di daerah yang disetujui (oleh pengesah terakreditasi).
Untuk menjawab kebutuhan akan sertifikasi organik JMHS bersama BioCert IFOAm akan melakukan sertifikas organik madu Sumbawa. Dengan adanya sertifikasi ini madu Sumbawa berpotensi untuk dapat masuk ke pasar internasional.
Langganan:
Postingan (Atom)
SELAMAT DATANG

Blog ini ruang bagi petani madu Sumbawa membangun komunikasi dengan dunia luar (show window)
Pesan Produk Kami
Pengikut
Popular Posts
-
Tanggal 7 Juni 2012 bertempat di Jalan Ki Hajar Dewantara Kelurahan Pekat Kec. Sumbawa, Rumah Madu Sumbawa di resmikan oleh Bupati Sumbawa...
-
POTENSI LEBAH MADU HUTAN Apis dorsata DI KAWASAN HUTAN TAMAN NASIONAL TESSO NILO, RIAU DAN KABUPATEN SUMB...
-
Saat ini banyak produsen, pengusaha madu di banyak daerah membawa nama madu Sumbawa sebagai bagian dari produk ataupun promosinya. Meskipun ...



.jpg)





