Senin, 11 Juni 2012

Tanggal 7 Juni 2012 bertempat di Jalan Ki Hajar Dewantara Kelurahan Pekat Kec. Sumbawa, Rumah Madu Sumbawa di resmikan oleh Bupati Sumbawa Drs. H. Jamaluddin Malik. Menurut Bupati Sumbawa, Madu Sumbawa merupakan icon Sumbawa. Sekalipun yang hadir pada acara yang sederhana ini sedikit saya tetap datang untuk meresmikan Rumah Madu Sumbawa ini. Mengingat selama Kab. Sumbawa ini ada kita tidak memiliki suata rujukan dimana Madu Sumbawa yang dapat dipercaya kualitasnya. Karena nilai strategis tersebut makanya saya hadir pada acara Peresmian Rumah Madu Sumbawa, jelas Bupati Sumbawa.


Acara ini merupakan hasil kerjasama Jaringan Madu Sumbawa (JMHS) dengan Bank BNI yang didukung oleh Pemda Sumbawa dan Kementerian Kehutanan. Pada acara tersebut Bupati Sumbawa akan mendukung JMHS agar usaha ini terus berjalan dengan membantu bantuan sarana operaional dan modal Rp. 25 juta rupiah.

Menurut Julmansyah selaku Fasilitator JMHS, Rumah Madu ini ndihajatkan sebagai sarana pemasaran produk madu masyarakat Sumbawa yang telah didampingi oleh JMHS dengan sejumlah teknik panen yang menghasilkan madu dengan kualitas baik. Disamping itu JMHS menerapkan sistem tracebility yang memungkinkan madu diketahui asal usulnya. Diakui oleh Julmansyah, bekerja dengan petani Madu sungguh tidak mudah tetapi JMHS telah menghajatkan bahwa bekerja untuk madu Sumbawa berarti membantu ribuan petani madu dan mempertahankan nama Madu Sumbawa. Apalagi JMHS merupakan pemehang Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI) Madu Sumbawa, yang diakui oleh perundang-undangan.

Beberapa produk Madu Sumbawa yang dipasarkan di Rumah Madu yakni botol jerigen ukuran 1.000 ml (1 liter) Rp. 160.000,- ukuran jerigen kecil 500 ml Rp. 80.000,- dan ukuran botol selai 230 ml Rp. 45.000,-. serta ukuran 150 ml Rp. 25.000,- Menurut Julmansyah kedepan Rumah Madu Sumbawa akan memasarkan madu dengan kadar air yang Standar Nasional Indonesia (SNI) minimal 22%. Selama ini madu yang beredar dipasaran lokal Sumbawa merupakan madu dengan kadar air tinggi (alami tanpa) berkisar antara 24% - 28%. Semakin tinggi kadar air akan mempengaruhi kualitas madu tersebut.

Pemesan di luar kota Sumbawa, seperti Mataram dan Surabaya akan tetap dilayani dengan ongkos kirim ditanggung oleh konsumen. Konsumen dapat memesan langsung melalui telepon yang berhubungan dengan Menejer Rumah Madu Sumbawa, Endang Komaladewi (081803692260 atau 082145013111) dengan konsumen mentransfer uangnya disertai dengan bukti pengirimannya dapat melalui email: endangkomala@yahoo.com***

Kamis, 07 Juni 2012



Puji syukur kami panjatkan kehadirat allah SWT, karena pada hari ini kegiatan yang sudah lama diniatkan oleh jaringan madu hutan Sumbawa akhirnya dapat terealisasi. Melalui kesempatan baik ini ijinkan kami melaporkan kepada bapak bupati Sumbawa sebagai berikut.

Selama 5 tahun keberadaan jaringan madu hutan Sumbawa (JMHS) sejak 2007 hingga sekarang, belum-lah kami mampu berjalan sendiri. Sekalipun selama 5 tahun kami juga nyaris berjalan sendiri. Memperkuat nama besar madu Sumbawa.

Selama 5 tahun, JMHS telah menembus pasar perusahaan multilevel marketing amway dengan jumlah pengiriman madu sebanyak 15 ton. Hal kami dapat lakukan karena kami telah bekerja di beberapa desa merubah pola panen petani madu Sumbawa dari peras tangan pada sistim tiris, sehingga menghasilkan madu dengan kualitas baik.

Sekalipun demikian, seluruh produksi madu petani Sumbawa belumlah sesuai dengan standar nasional Indonesia (SNI) dengan kadar air minimal 20%. Melalui Jaringan Madu Hutan Sumbawa, kami telah mulai merintis madu dengan standar SNI tersebut.


Rumah madu Sumbawa ini bertujuan untuk menjadi outlet bagi anggota jaringan madu hutan Sumbawa. Dimana kami membina para anggota untuk menghasilkan madu dengan kualitas terbaik. Disamping itu JMHS sendiri mengembangkan sistem keanggotaan yang berusaha untuk menjaga keaslian madu Sumbawa. Karena selama ini tidak ada suatu lembaga pun di Sumbawa yang berusaha membangun sistem yang mampu menjawab keragu-raguan konsumen akan keaslian madu Sumbawa.

Untuk itulah dengan segala sumberdaya yang kami miliki dan alhamdulillah didukung oleh bank bni melalu dana CSR (tanggung jawab sosial perusahaan) niat kami akan memproduksi madu dengan standar nasional indonesia akan segera tercapai.

Melalui kesempatan baik ini ijinkan kami menyampaikan rasa terima kasih kepada bank bni yang telah bersedia mendukung pengembangan madu hutan Sumbawa. Padahal bank bni merupakan suatu organisasi yang mungkin dalam kelola biSNIsnya tidaklah merusak hutan. Dimana hutan seperti kita ketahui merupakan sumber pakan lebah. Tetapi bank bni telah memiliki kepedulian yang tinggi terhadap kelestarian hutan.


Keberadaan kerjasama dengan bank bni ini merupakan upaya kami untuk memperbaiki kualitas madu Sumbawa sesuai dengan standar nasional Indonesia (SNI). Melalui bantuan bank bni senilai rp. 132.450.000 (seratus tiga puluh dua juta rupiah empat ratus lima puluh ribu rupiah), kami melengkapi peralatan pasca panen madu, dengan mengadakan alat pengurang kadar air madu, pembelian alat ukur kadar air madu, perbaikan label dll. Dengan keberadaan alat ini produksi madu anggota JMHS diharapkan akan sesuai dengan standar nasional indonesia.

Akan tetapi alat tersebut belum dapat kami gunakan, mengingat kami membutuh bangunan yang representatif di rumah madu ini. Untuk itu melalui bapak bupati Sumbawa, kiranya dapat membantu kami dalam pengadaan bangunan pengurang kadar air madu yang sekaligus melengkapi sarana dan prasarana di rumah madu Sumbawa ini. Rumah madu Sumbawa ini dibangun ditanah milik dinas kehutanan dan biaya rehab bangunan atas bantuan dari kementerian kehutanan.

Sebagai akhir laporan ini kami sampaikan terima kasih kepada bank bni jakarta dan bank bni cabang Sumbawa yang telah dengan sabar dan mau bekerjasama dengan jaringan madu hutan Sumbawa. Kepada kepala dinas kehutanan dan perkebunan Sumbawa atas segala dukunganya morilnya kami sampaikan terima kasih, kedepannya kami masih membutuhkan dukungan lebih nyata seperti halnya bank bni ini.

Kepada bapak bupati Sumbawa dan bapak bupati Sumbawa yang selama ini selalu mendukungan JMHS dan membeli madu di anggota JMHS kami menyampaikan terima kasih. Kepada bapak bupati Sumbawa, mohon kiranya untuk memberi sambutan dan arahan sekaligus meresmikan rumah madu ini.

Demikian yang dapat saya sampaikan, mohon maaf bila ada salah khilaf.

Wabillahi taufik walhidaya wassalam mualaikum warrahmatullahi wbarakatuh

Jaringan madu hutan Sumbawa (JMHS)
Ketua

M. Rakib

Senin, 17 Oktober 2011

Asia Regional Workshop on Nutrition and Health Benefits 
on The Apis dorsata and Triggona Spp.di kebun Raya Bogor

Temu Petani Madu Asia, tampak dari Sulawesi, Sumbawa (2 orang M. Rakin - Ketua JMHS dan Junaidi Zain), dari Vietnam, Philipina, India dan Nepal)

Kegiatan Madhu Duniya merupakan pertemuan para petani madu, praktisi dan ilmuan madu di Asia di Laksanakan di Kebun Raya Bogor 19-20 September 2011. kegiatan Madhu Duniya yang kedua diadakan di Indonesia setelah yang pertama dilaksanakan di India tahun 2007. Kegiatan Madhu Duniya dibagi dalam dua kegiatan yakni Asia Regional Workshop on Nutrition and Health Benefits on The Apis dorsata and Triggona Spp. Kegiatan Workshop diikuti oleh para ilmuan madu dari Malaysia, Vietnam, India, Kamboja, Philipina, Nepal dan Indonesia. Indonesia sendiri perwakilan dari berbagai daerah anggota Jaringan Madu Hutan Indonesia (JMHI), termasuk dari Jaringan Madu Hutan Sumbawa (JMHS) yakni Julmansyah.
Kegiatan Kedua yakni Pertemua para petani madu Asia yang dikemas dalm Pertemuan Tahunan (annual meeting) JMHI di Taman Nasional Ujung Kulon.

Kegiatan Asia Regional Workshop on Nutrition and Health Benefits on The Apis dorsata and Triggona Spp dengan pemaparan para ahli antara lain:
  1. Nutritional, health value of bee pollen & best ways to handle and preserve oleh Dr.Phung Huu Chinh & Le Quang Trung Bee Research & Development Centre (BRDC) dari Vietnam;
  2. Bees Our Region, oleh Leo dari India
  3.  The Cambodian Federation For Bee Conservation and Community-Based Wild Honey Enterprises
  4.  Bioactivities of bee products in Thailand Oleh Chanpen Chancha, Department of Biology, Faculty of Science, Chulalongkorn University, Bangkok, Thailand
  5. Nutritional values of honey-Wild honey
  6. The NATRIPAL HONEY Story From the last forest frontier --- Palawan, Philippines
  7. THE POTENTIAL HEALTH BENEFITS OF TUALANG HONEY BASED ON RECENT RESEARCH FINDINGS Oleh Siti Amrah Sulaiman [MD; MMedSci;PhD] Coordinator for T&CM Research Group School of Medical Sciences Health Campus, Universiti Sains Malaysia 16150 Kubang Kerian, Kelantan, MALAYSIA.
  8.  IMPROVING THE WELFARE OF THE LOCAL COMMUNITY AND ENVIRONMENT THROUGH FOREST HONEY BEE IN INDONESIA Oleh Hermanto JMHI
  9. From Forest Gate to Sophisticated Market, Oleh Johnny Utama Dian Niaga Jakarta
  10. From Money Laundering to Honey Laundering: The Horror Story!, The Impact on Health and Nutrition.

 Sungguh banyak pengalaman bagaimana praktek pengelolaan madu hutan (apis dorsata) di banyak negara Asia. Di Vietnam dan Camboja, kelompok masyarakatnya mereka telah bergerak pada produk turunan dari madu hutan. Sementara kita di Sumbawa masih berputar hanya di produk madu. ada banyak turunan madu yang bisa bermanfaat untuk kesehatan, antara lain Beebread atau beepolen.


Minggu, 14 Agustus 2011

 Lesson Learned Jaringan Madu Hutan Indonesia dipresentasikan di 2nd Regional Forum 
di Bangkok Thailand, yang di moderatori oleh Maria Cristinna Guetterro dari NTFP EP Philipina

Bersama mitra NTFP EP di stand Pemeran hasil hutan bukan kayu jaringan NTFP EP Asia Tenggara

 Foto bersama participans Indonesia di 2nd Regional Forum Bangkok Thailand, saat penutupan acara
tampak di tengah menggunakan jaket Dr. Ir. Haryadi Himawan dari Sekretariat ASEAN Social Forestry Network (ASFN) yang juga Direktur Bina Perhutanan Sosial Kementerian Kehutanan RI.



 
Dalam rangka International Year of the Forest 2011, dengan tema sentral People and Forest maka dilaksanakan 2nd Regional Forum untuk Asia Pasifik di Bangkok Thailand dari 8 – 9 Agustus 2011. Tema pada 2nd Regional Forum ini adalah Community Forestry: Key to Solving Current and Emerging Challenges. Pertemuan ini dihadiri oleh 20 negara dengan 180 peserta terdiri dari lembaga donor, perwakilan pemerintah, LSM international, LSM lokal, para pelaku kehutanan masyarakat yang tersebar di semua Negara peserta. Pertemuan ini membahas kondisi terkini, perkembangan serta pelajaran (cerita sukses) selama parapihak bekerja melibatkan masyarakat lokal dalam pengelolaan hutan. Fokus pembahasannya bagaimana kondisi sekarang dan tantangan yang muncul dalam pengembangan kehutanan masyarakat (community forestry).

Pertemuan ini sangat strategis bagi pelaku dan promotor kehutanan masyarakat di Asia Pasifik, sehingga panitia mengundang para pelaku dari berbagai Negara, kelompok maupun LSM dan perguruan tinggi untuk mempresentasikan pengalamannya bekerja melibatkan masyarakat dalam pemanfaatan dan pengelolaan sumberdaya hutan. Setengah hari pertama diisi dengan pandangan para ahli tentang kehutanan masyarakat. Kemudian setengah harinya kembali diisi dengan 24 contoh inovasi serta inisiatif berbasis masyarakat dari semua negara. Pembahasan inisiatif ini dilaksanakan secara paralel, dan Jaringan Madu Hutan Sumbawa (JMHS) yang mewakili Jaringan Madu Hutan Indonesia (JMHI) wakili oleh Julmansyah, berkesempatan menyampaikan pengalaman serta beberapa capaian hasil bekerja bersama masyarakat madu di Indonesia secara umum. Paparan pengalaman ini masuk dalam sub tema income generation dan market acces (peningkatan pendapatan dan akses pasar) terutama untuk hasil hutan bukan kayu. Pada sesi ini dipresentaskan pengalaman dari Indonesia (pengelolaan madu hutan), Philipina (pemasaran NTFP), China Agricultural University (tentang Bambu), Asia Network for Suistainable Agriculture & Bioresources–Nepal  (pemasaran hasil hutan bukan kayu), The Nature Conservation Papua New Guinea (Jasa Lingkungan).
Hari kedua forum ini akan merumuskan Visi Kehutanan Masyarakat di 2020 serta merumuskan rencana aksi bagi seluruh negara peserta.Acara ini diorganiser oleh badan pangan dunia FAO, Japan International Cooperation Agency (JICA), ASEAN Social Forestry Network (ASFN), Departemen Kehutanan Kerajaan Thailand dan RECOFT.
Pertemuan seperti sekaligus merupakan sarana untuk saling tukar menukar informasi, pengetahuan dan keterampilan dalam rangka mempromosikan kehutanan masyarakat (community forestry). Pada ruang berbeda di arena pertemuan terdapat pameran dan pemutaran film dari berbagai inisiatif di Asia Pasifik. Seluruh peserta yang memiliki film dokumenter tentang program/proyek di negara masing-masing turut juga diputar. Dari Sumbawa juga disampaikan film dokumenter “BOAN The Guardian Sumbawa River Basin/Watershed”. Film ini menceritakan bagaimana pohon Boan menjadi salah factor yang harus dijadikan pintu masuk dalam menjaga DAS di Sumbawa, khususnya Sub DAS Batulanteh yang hulunya di Desa Batudulang.

Rabu, 13 Juli 2011

Jaringan Madu Hutan Sumbawa (JMHS) berpartisipasi mensukseskan Gebyar Madu Nusantara di Mataram 12 Juli 2011 serta pemecahan rekor minum madu. Kegiatan tersebut menjadi rangkaian International Conference Forest Land Tenure di Lombok. Berikut Foto Kegiatan tersebut:
         
Ket Gambar: Tampak Stand JMHS di arena International Conference Forest Land Tenure, tampak pengurus JMHS Sdr. Junaidi Zain

Ket. Gambar: Di arena Gebyar Madu Nusantara dan Minum Madu di depan Kantor Gubernur NTB. Stand JMHS di serbu pengunjung tampak produk madu JMHS di tangan pengunjung

Ket. Gambar: Tampak Ketua JMHS Sdr M. Rakib di stand JMHS di arena conferensi bersama salah seorang peserta dari Afrika

Ket. Gambar: Ketua JMHS bersama Wakil Gubernur NTB di area Gebyar Madu Nusantara, tampak produk madu JMHS di atas meja

Ket. Gambar: Ketua JMHS bersama Menteri Kehutanan di depan stand JMHS di arena Minum Madu dan Gebyar Madu Nusantara, tampak Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan memegang Buku "Madu Hutan Menekan Deforestasi", yang diterbitkan oleh JMHS bersama EGP The Netherland